Sangkala 9:10

“Berbeda Bukan Berarti Tak Perlu Dibela”

Mengambil latar peristiwa nyata pada 9 Oktober 1740 (9/10/1740), Teater Abang None Jakarta kembali menyuguhkan sebuah sandiwara musikal betawi berjudul Sangkala 9/10 pada 6-8 Mei 2011 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Berbeda dengan dua pementasan sebelumnya yang menampilkan cerita populer, pementasan ketiga ini mengangkat sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat. Peristiwa yang dimaksud adalah pembantaian etnis Tionghoa oleh Belanda pada tahun 1740.

Pada masa itu, masyarakat etnis Tionghoa hidup rukun berdampingan dengan masyarakat Betawi. Aktivitas perdagangan warga Tionghoa yang semakin maju membuat Belanda gerah. Belanda mulai membuat peraturan-peraturan yang menyusahkan orang-orang Tionghoa, mengobrak-abrik toko-toko mereka (termasuk milik salah satu keluarga Tionghoa, Hong Djian), membujuk warga Betawi agar membenci dan mengusir warga Tionghoa, hingga berencana membantai warga Tionghoa di Batavia. Salah satu tokoh Betawi yang dihasut Belanda adalah Bang Madi dari Kampung Bidaracina, namun demikian ia menolak.

Pada saat Belanda mengobrak-abrik toko obat Hong Djian, anak gadis Hong bernama Nie Lie Hay (Lily) ikut melawan dan ditolong oleh Said, anak laki-laki Bang Madi. Said yang kemudian belajar kungfu kepada keluarga Hong jatuh cinta dengan Lily, dan dari situ Said semakin sadar bahwa Belanda selama ini berbohong. Said lalu mengajak warga Betawi untuk membela warga Tionghoa. Namun demikian, pada 9 Oktober 1740, pembantaian tetap terjadi. Ribuan warga Tionghoa dibunuh dengan keji oleh Belanda. Said yang membela mereka pun ikut dibunuh dalam pembantaian itu.

Pesan moral yang dapat dipetik pada pementasan ini adalah tentang kerukunan dalam keragaman, yang terlihat saat bersatunya warga Betawi dan warga Tionghoa untuk melawan Belanda. Selain itu, pesan yang tidak kalah penting adalah janganlah mudah dihasut dan menerima berita tanpa dicek kebenarannya. Namun demikian, pementasan yang masih diproduseri Maudy Koesnaedi ini tidak hanya didominasi oleh adegan-adegan serius. Adegan-adegan lucu, tarian khas Betawi, hingga nyanyian hip hop ikut mewarnai pementasan ini. Lukisan bayang pasir oleh Fauzan Ja’far dengan narasi Gambang Rancak oleh Firmansyah yang mendeskripsikan beberapa jalan cerita juga memberikan nuansa berbeda. Ditambah dengan tampilan multimedia garapan Oleg Sanchabakhtiar dan Planet Design Indonesia, latar panggung menjadi semakin nyata. (bre)

 

“Defending the Differences”

 

Based on a true story on 9 October 1740, Teater AbNon presented another Musical Theater called “Sangkala 9/10” on 6-8 May 2011 at Teater Jakarta – Taman Ismail Marzuki. In contrast with two previous musical performances which showed popular and hilarious indigeneous stories, this third production showed one of sorrowful history about Chinese genocide in Jakarta by the Dutch dated back in 1740 which might be unknown by most people today.

Back in 1700s, Chinese and Betawi (Jakarta ethnic) were living in harmony. The trading activities by Chinese were rapidly growing and helped Betawi people. It made the Dutch who colonized Jakarta full of anger. The Dutch then made complicated regulations which hardly fulfilled by Chinese. They also started destroying the Chinese stores, (one of the stores owned by Hong Djian Family), which instigated Betawi people to expel them and plan a massacre. One of prominent Betawi figures, Bang Madi, was also provocated by the Dutch, but he refused to follow the plan against the Chinese.

 

During this major clash, a lass from Hong Djian named Nie Lie Hay (or Lily) also participated against ill treatment by Dutch and she was helped by Bang Said, the only son of Bang Madi. Bang Said had been practising Kung Fu (tradisional Chinese martial art) at Hong Djian Family and eventually fell in love with Lily. Bang Said also gradually believed that the Dutch were just trying to pit the Chinese and Betawi against each other. A massacre finally took place on 9 October 1740. Thousands of Chinese were brutally murdered and Bang Said was also killed in that massacre. The moral messages that could be retrieved in this story were about harmony in difference between Betawi and Chinese and how they fought together against the Dutch. We had to check the facts before taking action to avoid being easily provoked.

 

Regardless to sad story, this musical, which was produced by Ms. Maudy Koesnaedi, offered much more than serious and sad scenes. The said performance also contained many amusing scenes, traditional betawi dances, hip hop songs, which enlivened the whole performance. Sand painting by Mr. Fauzan Ja’far combined with Gambang Rancak narrative by Mr. Firmansyah and sophisticated digital multimedia background by Mr. Oleg Sanchabakthiar described the unique storyline and made the scenes became increasingly apparent and stellar. (andes)