DOEL

“Si Doel, Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik”

Teater Abang None Jakarta kembali menyelenggarakan sandiwara musikal Betawi dengan judul Si Doel, Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik pada 14-15 Mei 2010 di Gedung Kesenian Jakarta. Masih diproduseri oleh Maudy Koesnaedi, pementasan ini diadaptasi dari film Si Doel Anak Modern (1976) yang dibintangi oleh Benyamin S, Christine Hakim, dan Ahmad Albar. Dengan menyorot masalah cinta segitiga antara Doel (Ade Firman Hakim), Asnah (Nabilah Zata Dini), dan Usye (Senandung Nacita Mizwar), pementasan ini mampu membuat penonton tertawa, tersenyum, sekaligus juga terharu.

Pementasan dibuka dengan tarian Topeng Betawi, yang diceritakan penari-penarinya berasal dari Parung. Para penari tersebut (salah satunya Asnah) tergiur dengan tawaran Bramantyo, yang berjanji akan membawa mereka untuk pentas di luar negeri dengan membayar sejumlah uang. Namun demikian, Bramantyo ternyata menipu mereka. Saat itulah Doel, teman dekat Asnah ingin menolongnya.

Cerita dilanjutkan dengan pertemuan Doel dengan teman masa kecilnya, Salempang. Salempang ternyata berhasil mengubah Doel yang tadinya sederhana dan apa adanya menjadi sok modern. Dari sini, Doel menghadiri sebuah acara fashion show di Jakarta, dan bertemu dengan Usye, salah satu model di sana yang juga adalah teman masa kecilnya. Pertemuan itu membuat Doel terpana dan jatuh hati kepada Usye. Asnah yang menyukai Doel kemudian cemburu dan meminta orang tuanya untuk buru-buru melamar Doel. Dari sinilah kisah cinta segitiga Doel, Asnah, dan Usye bermula..

 

Pementasan yang berlangsung selama dua jam ini lebih besar dan lebih meriah dari pementasan sebelumnya, terlihat dari pemainnya yang lebih banyak dan kostum yang lebih lengkap. Para pemain tetap berasal dari alumni Abang dan None Jakarta, termasuk yang sudah memiliki nama seperti Alya Rohali, Adjie Pangestu, dan lain-lain. Hadir sebagai sutradara yaitu Adjie Nur Ahmad, penulis naskah Ratih Kumala, tata musik oleh Imam Firmansyah bersama grup Altajaru, serta koreografi oleh Atien Kisam. Tidak ketinggalan penampilan spesial dari Endah N Rhesa turut membawa nuansa segar dalam pementasan kali ini. (bre)

 

Si Doel, Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik

 

Teater Abang None returned to hold another Betawi Musical Play entitled Si Doel, Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik on May 14-15 2010. This play, which was still produced by Maudy Koesnaedi, was adapted by the movie of “Si Doel Anak Modern” from 1976 starred by Benyamin S, Christine Hakim, and Ahmad Albar. Bringing forward the story about triangle-love between Doel (Ade Firman Hakim), Asnah (Nabilah Zata Dini), and Usye (Senandung Nacita Mizwar), this play was able to invite laughter, smile, and yearning feeling from all audiences simultaneously.

This play was opened by Topeng Betawi dance, and as it was depicted by the storyline, the dancers were coming from Parung. The dancers (one of them is Asnah), were tempted by Bramantyo, who promised bringing Asnah and all of the dancers to perform abroad. Bramantyo persuaded them to pay some amount of money to him as a pre-condition so he could bring them abroad. Unfortunately, Bramantyo was only a deceiver, so he fooled them. That was the moment when Doel tried to help Asnah, his best friend.

 

Story went on as Doel met his childhood friend, Salempang. Salempang saw Doel as an old-fashioned guy, so he transformed Doel from an ordinary and modest guy into a more modern – yet queasy – one. After successfully transforming Doel, he brought Doel to the fasion show event in Jakarta. In this event, Doel met Usye, one of the models who turned out to be his childhood friend. Doel was stunned by the beauty of Usye and somehow fell for Usye. Asnah, who had a feeling for Doel, was burnt in jealousy. As the result, Asnah asked her parents to immediately propose Doel to marry her. This was the moment when the triangle-love story began.

The play was held for almost two hours. It was admitted as better than the previous one, indicated by the more number of the performers and also the more complete costumes. The casts were still from the alumni of Abang None Jakarta, including the ones who had been prominently famous like Alya Rohali, Adjie Pangestu, and many more.

 

Beside Maudy Koesnaedi as the producer, the names who also came as the important credits to this play were Adjie Nur Ahmad as the play director, Ratih Kumala as the script writer, Imam Firmansyah as the music director with his group Altajaru, and Atien Kisam as the coreographer. The performance from Endah N Rhesa also brought in fresh ambience to this play.