Jawara!

with No Comments

jawara-poster

Djarum Apresiasi Budaya bekerjasama dengan Teater Abang None Jakarta akan menggelar sebuah sandiwara Betawi bertajuk “Jawara” Langgam Hati dari Marunda. Dalam pertunjukan kali ini, Teater Abang None Jakarta mengedepankan ilmu bela diri silat Betawi, sebagai bukti konsistensi Teater Abang None Jakarta dalam mempertahankan budaya Betawi. Pertunjukkan kali ini akan berlangsung mulai tanggal 24 hingga 25 Oktober 2015 mendatang di Gedung Kesenian Jakarta.

Dalam lakon Jawara, para pemeran yang terlibat dalam pementasan telah dibekali ilmu silat langsung dari salah seorang pewaris kebudayaan Betawi yang kini aktif sebagai ketua seksi tari di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), yaitu Atien Kisam, atau yang lebih akrab disapa Bang Atien. Selain itu, mereka juga berkolaborasi dengan tiga perguruan besar silat Betawi yaitu, Sabeni Tenabang, Harimau Belut Putih, Pusaka Jakarta.

Pada produksi kali ini, Teater Abang None Jakarta akan menceritakan perjalanan Asni, yang dituduh merampok rumah Babah Yong. Asni pun melakukan perjalanan untuk mencari siapa yang sebenarnya telah merampok rumah Babah Yong. Setelah melewati perjalanan panjang, tibalah Asni di Marunda. Pada saat itu sedang digelar sebuah sayembara yang diikuti oleh para jawara silat yang dibuat oleh Bang Bodong, dengan tujuan mencarikan jodoh untuk Mirah, anak Bang Bodong yang sangat cantik dan jago silat. Ternyata, rampok yang selama ini dicari oleh Asni juga mengikuti sayembara tersebut.

Teater Abang None Jakarta berdiri sejak tahun 2009 atas Prakarsa Maudy Koesnaedi (None Jakarta 1993). Proyek berbasis komunitas ini merupakan bentuk sumbangsih dan usaha dalam melestarikan budaya Betawi, serta sarana untuk memotivasi dan memberikan kesempatan kepada para Abang None Jakarta turut serta dalam usaha tersebut. Hingga saat ini, Teater Abang None Jakarta telah memproduksi 9 pertunjukan mulai dari “Cinta Dasima” pada tahun 2009,“Doel: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik” pada tahun 2010, “Sangkala 9/10” pada tahun 2011, “Soekma Djaja” dan “Topeng Betawi Jaya Bersama” pada tahun 2013, “Lenggak Lenggok Jakarta” dan “Topeng Jakarta Jaya Raya” pada tahun 2014, “We Love Mpok Nori” yang dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada perayaan ulang tahun kota Jakarta pada tahun 2015 dan yang terakhir yaitu “Jawara” yang akan dipentaskan mulai 24 hingga 25 Oktober 2015 mendatang di Gedung Kesenian Jakarta.

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan pementasan Teater Abang None “Jawara” Langgam Hati dari Marunda ini, tiket dapat dibeli melalui Gedung Kesenian Jakarta, dengan detil sebagai berikut :

Jadwal Pementasan :
Sabtu, 24 Oktober 2015, pukul : 19.30 WIB
Minggu, 25 Oktober 2015, Show 1 pukul : 15.30 WIB dan Show 2 pukul : 19.30 WIB

Harga Tiket :
VIP : Rp 375.000,-
Kelas I : Rp 275.000,-
Kelas II : Rp 175.000,-

Pemesanan Tiket :
Asti : +6281297421208
Tiket tersedia di Gerai Seven Eleven (7/11)
Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Gedung Kesenian Jakarta No.1, Jakarta 10910 – Indonesia

“BABE” Muka Kampung Rejeki Kota

with No Comments

unnamed-7

Teater Abang None (Abnon) Jakarta didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation akan menggelar sebuah konser teatrikal dengan judul BABE, Muka Kampung Rejeki Kota yang mengangkat kisah perjalanan hidup Benyamin Sueb. Disutradarai oleh Agus Noor dan diproduseri oleh Maudy Koesnaedi, konser teatrikal ini akan diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 15 & 16 September 2017 bertempat di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Benyamin Sueb bukanlah sekadar nama. Ia adalah sosok seniman multi talenta yang menggema karena kejenakaannya. Kita mengenal banyak celotehan satir yang dilontarkan lelaki kelahiran Kemayoran 5 Maret 1939 ini, namun menjadi akrab dan bersahaja di kehidupan kita sehari-hari, sebut saja Muke Lu Jauh, Kingkong Lu Lawan, Makdikipe, dan masih banyak lagi.

Tahun 2005 Ludhy Cahyana dan Muhlis Suhaeri menulis buku biografi tentang perjalanan hidup Benyamin Sueb berjudul Muka Kampung Rezeki Kota. Melalui buku biografi ini, Maudy Koesnaedi selaku pemrakasa Teater Abnon kemudian terinspirasi memproduseri pertunjukan tentang Benyamin Sueb dengan konsep yang berbeda sebagai wujud apresiasi kepada sang legenda yang wafat di Jakarta pada tanggal 5 September 1995.

Konser teatrikal BABE, Muka Kampung Rejeki Kota yang juga didukung oleh Teh Botol Sosro, Telkomsel, Indofood, Kimia Farma dan Sari Ayu Martha Tilaar ini dimeriahkan dengan para pemain seperti, Tommy Tjokro, Indra Bekti, Imam Wibowo, Ayumi Astriani, Astry Ovie dan abang none Jakarta lainnya.

Mengiringi pertunjukan, lebih dari 30 lagu yang pernah populer mengiringi perjalanan hidup seniman legendaris ini dibawakan dan diaransemen ulang oleh Ifa Fachir, sebagai penata musik dalam konser teatrikal ini. Dalam persiapannya, Ifa Fachir menciptakan dua lagu bersama Simhala Avadana yang berjudul Karya Untukmu dan Muka Kampung Rejeki Kota’ yang lirik lagunya terinspirasi dari judul-judul lagu Benyamin dan juga sebagai tanda apresiasi kepada Babe Benyamin.

HTM Konser Teaterikal Babe – Muka Kampung Rejeki Kota
VIP        Rp. 500.000
Kelas 1        Rp. 300.000
Kelas 2        Rp. 200.000

Informasi dan Reservasi Tiket
Kayan Production & Communications : 0838 9971 5725, 0856 9342 7788, 0813 1163 0001,
tiket online : www.blibli.com
Muka Kampung Rejeki Kota, cuma Babe yang bisa bikin ketawa.

SOEKMADJAJA

with No Comments

Soekma Djaja

“Daun singkong daun sawi, Kembang kelapa buah kenari. Gambang kromong dari Betawi, Jangan lupa budaya sendiri.”

Berbeda dari pementasan-pementasan sebelumnya yang mengambil setting masa lalu, di pementasan keempatnya ini, Teater Abang None Jakarta mengusung tema yang lebih sederhana, yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Dipentaskan pada tanggal 5 dan 6 Juni 2013 di Gedung Kesenian Jakarta, SOEKMADJAJA menuturkan potret kehidupan sebuah keluarga Betawi pinggiran yang masih mempertahankan tradisi musik Betawi, Gambang Kromong.

Dikisahkan, keluarga seniman ini hidupnya semakin sulit karena desakan ekonomi yang tidak dapat dipenuhi dari pemasukan sebagai penggiat Gambang Kromong. Terlebih musik tradisi ini semakin tergerus oleh arus zaman modern. Berbagai cara pun dilakukan oleh keluarga Maman Djaja untuk bertahan hidup. Namun Jay (diperankan oleh Bobby Tanamas), si sulung peraih beasiswa di kampus ternama, sama sekali tidak berminat pada segala sesuatu yang berhubungan dengan kesenian Betawi. Sementara Yadi (diperankan oleh Lutfi Ardiansyah), si bungsu yang duduk di bangku SMA, malah bertekad untuk meneruskan usaha keluarganya tersebut.

Namun di tengah cerita, tragedi tak diinginkan terjadi. Yadi, yang merupakan tulang punggung keluarga, justru terenggut nyawanya akibat tawuran antar pelajar. Peristiwa itu membuat Jay yang sebelumnya anti dengan budaya Betawi, perlahan mulai tersadar dan mau melanjutkan usaha gambang kromong. Bersama dengan teman kampusnya, Nadine (diperankan oleh Nissia Ananda), Jay berencana membuat sebuah pertunjukan yang memadukan kesenian modern dan kesenian Betawi, sebagai tugas kelompok dari dosen mereka. Inilah langkah awal Jay untuk meneruskan usaha keluarganya, dan meneruskan cita-cita adik kesayangannya.

Jalan cerita yang ringan, dipadu dengan olah gerak, vokal, dan akting para pemain, kejutan-kejutan yang muncul di tengah cerita, lelucon khas orang pinggiran yang sesekali terlontar, mampu menghidupkan pementasan ini, dan menghibur para penonton yang hadir. Namun di balik kisahnya yang sederhana, terselip sebuah pesan penting yang diharapkan mampu ‘menyentil’ para generasi muda sekarang. Daun singkong daun sawi, kembang kelapa buah kenari. Gambang Kromong dari Betawi, jangan lupa budaya sendiri. (bre)

Daun singkong daun sawi, Kembang kelapa buah kenari. Gambang kromong dari Betawi, Jangan lupa budaya sendiri.

Recent Posts

Categories